Konfrontasi Si Gila dan Nyentrik Massimo Ferrero

303agent.com – Dibandingkan dikenal sebagai klub bergelimang prestasi, saat ini, Sampdoria lebih dikenal sebagai klub yang dipimpin oleh presiden gila; Massimo Ferrero.

Kegilaan Ferrero sering dibandingkan dengan kegilaan presiden Napoli, Aurelio De Laurentiis. Kalau diperhatikan, keduanya memang memiliki banyak kemiripan. Selain sama-sama lahir di kota Roma dan berprofesi sebagai produser film, keduanya juga sering jadi objek pemberitaan akibat perbuatan-perbuatannyeleneh yang sering membikin banyak orang tak habis pikir.

ferrero01 300x201 Konfrontasi Si Gila dan Nyentrik Massimo Ferrero

Berawal dari Dunia Film

Ferrero mulai menggeluti dunia perfilman sejak usia 18 tahun. Walau demikian, waktu itu ia tetap tak meninggalkan profesi lamanya sebagai sopir bus. Akibat kenekatannya tersebut, sejak muda Ferrero sudah mendapat julukan “Er Viperetta” alias “Si Ular Kecil (yang Berbisa)”

Sebagai penggiat dunia hiburan, Ferrero juga menguasai 60 bioskop, termasuk teater bersejarah Adriano yang pengelolaannya dijalankan oleh perusahaan miliknya, Farhem Ferrero Group.

Bagi Ferrero, film tak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga merupakan cara untuk menunjukkan dan menyuarakan kesukaan atau ketidaksukaannya terhadap orang lain. Contohnya, “Bye Bye Berlusconi”. Film yang sempat tayang di Berlin pada gelaran International Film Festival 2006 ini, menggambarkan ketidaksukaannya terhadap presiden AC Milan yang juga menjabat sebagai perdana menteri Italia, Silvio Berlusconi.

Ferrero juga berandil besar dalam film “Ultra” yang tayang tahun 1991. Tak cukup dengan memproduseri, ia juga berakting dalam film yang berkisah tentang ultras AS Roma tersebut.

Ferrero Group juga melakoni ekspansi usaha ke bisnis maskapai, Livingston Energy Flight. Namun sayang, usaha tersebut bangkrut akibat terkendala prosedur administrasi yang luar biasa rumit. Kebangkrutan tersebut bahkan sempat menyeret Livingston Energy Flight ke meja hijau. Mereka terjerat utang yang tak sedikit sehingga disangkutpautkan dengan isu penipuan.

Secara historis, Ferrero yang sebenarnya merupakan penggemar AS Roma, memang orang baru di Sampdoria. Sekitar bulan Juni 2014, mantan presiden Sampdoria, Edoadro Garrone menjual klubnya akibat jeratan utang. Sebagai presiden, Ferrero mengontrol keuangan Il Samp, julukan Sampdoria, melalui Sport Entertainment Holding yang berbasis di Roma. Kabarnya, 80% modal saham dan kekayaan bersihnya akan diwariskan kepada putrinya, Vanessa, sementara sisanya, diwariskan kepada cucunya yang bernama George.

Ambisi Ferrero di ranah sepakbola tak terpuaskan hanya dengan kepemilikannya atas Sampdoria. Ia juga berniat membeli US Lecce serta mengakuisisi Cosenza Calcio yang kini berkiprah di Serie C.

Ambisi Sampdoria Kembali Eksis di Eropa

Ferrero boleh gila dan nyentrik, namun di tangannya Sampdoria tampil sebagai klub yang lebih baik. Hal ini terlihat dari aktifnya Sampdoria di bursa transfer. Kedatangan Ferrero sebagai presiden diikuti dengan sejumlah perekrutan cerdas, seperti: Gonzalo Bergessio (Catania), Lorenzo De Silvestri (Fiorentina), Ezequiel Munoz (Palermo), Afriyie Acquah (TSG Hoffenheim), Emiliano Viviano (Palermo), Matias Silvestre (Internazionale Milan) Luis Muriel (Udinese) dan Samuel Eto’o (Everton). Nama-nama tersebut belum termasuk dengan peminjaman Alessio Romagnoli dari AS Roma dan Ezequiel Munoz dari Palermo.

ferrero05 Konfrontasi Si Gila dan Nyentrik Massimo Ferrero

Pasca bursa transfer, performa Sampdoria jauh lebih baik dibandingkan dengan musim-musim sebelumnya. Di musim 2013/2014 Sampdoria memang harus bersusah payah supaya bisa lolos dari zona degradasi. Tapi di musim lalu mereka tampil lebih meyakinkan. Di bawah asuhan Sinisa Mihajlovic, kesebelasan asal kota Genoa ini berhasil mengakhiri musim di peringkat tujuh dan berhak melaju ke kompetisi Europa League 2015/2016.

Bertolak dari pencapaiannya ini, Ferrero menargetkan Sampdoria lolos ke Liga Champions 2016/2017 dan juara Serie A beberapa musim ke depan. Agaknya, ambisi Ferrero tak sebatas menjadian Sampdoria jago kandang. Ia ingin Sampdoria jadi klub yang disegani di level Eropa.

Ambisi tinggi Ferrero ternyata tak bisa direalisasikan dengan mudah. Kompetisi Serie A musim ini belum dimulai, ia sudah dibuat berang. 30 Juli lalu saat berlaga di babak kualifikasi Europa League, Sampdoria ditaklukan 0-4 oleh klub asal Serbia, Vojvodina, di kandang sendiri.

Parahnya, kekalahan tersebut juga melahirkan isu kalau saat ini ia sedang menyiapkan sejumlah nama sebagai pengganti pelatih Walter Zenga. Vicenzo Montela, Cesare Prandelli dan Roberto Donadoni diindikasi sebagi calon-calon kuat yang segera menyingkirkan Zenga dari kursi kepelatihan.

Konfrontasi Ferrero

Ferrero adalah presiden yang tak sungkan melebur dengan para pendukung Sampdoria. Ia gemar merayakan kemenangan klubnya bersama seluruh pemain dan staf, walau ia sedang berada di tribun stadion lawan. Saat berada di tribun, Ferrero selalu menanggalkan atributnya sebagai presiden dan berdandan laiknya seorang suporter. Tak ayal, kegilaan yang menjadi ciri khasnya ini begitu menarik perhatian media.

ferrero02 Konfrontasi Si Gila dan Nyentrik Massimo Ferrero

ferrero03 Konfrontasi Si Gila dan Nyentrik Massimo Ferrero

Cerita tentang Ferrero bukan hanya menyoal kegilaannya di tribun stadion. Belakangan, namanya ramai diperbincangkan karena menghina presiden Inter Milan, Erick Thohir dengan sebutan “Fillipino”. Atas ulahnya tersebut, mau tidak mau Ferrero harus menerima denda dan larangan menonton di stadion dari FIGC.

Cerita tentang hinaan Ferrero kepada Thohir berawal dari sebuah wawancara di stasiun televisi Italia bulan Oktober 2014 lalu. Sebenarnya, dalam wawancara tersebut Ferrero membahas berita pengunduran diri presiden kehormatan Inter Milan, Massimo Morrati.

Menurut sejumlah kabar, Moratti mengundurkan diri akibat berselisih paham dengan Thohir. Ferrero menganggap kalau Moratti diperlakukan secara tidak adil. Dalam wawancara tersebut, Ferrero sempat mengecam Thohir dan mengeluarkan pernyataan bernada rasis.

“Moratti adalah orang hebat dan tampaknya tidak adil dia diperlakukan seperti ini karena dia sudah memberikan begitu banyak hal untuk sepak bola Italia,” ujar Ferrero saat itu. ”Saya sangat sedih untuknya. Saya bilang ke dia: Depak saja orang Filipina itu,” katanya.

Berita ribut-ribut Ferrero dengan petinggi klub lain tak hanya menyoal Erick Thohir. Sekitar bulan Februari lalu, Ferrero mengaku kalau ia menerima ancaman pembunuhan dari presiden Palermo, Maurizio Zamparini. Katanya, ancaman itu muncul akibat adanya spekulasi pendekatan yang dilakukan Sampdoria kepada kapten Palermo, Edgar Barreto.

Ferrero menegaskan ingin mendapatkan keadilan dari FIGC setelah sempat menerima hukuman tiga bulan dilarang ke stadion.

“Zamparini menghina saya, membuat ancaman kematian,” ujarnya. “Dia mendapat publisitas untuk dirinya sendiri dengan menghina saya. Cukup dengan penghinaan. Saya memanggilnya untuk bertanya tentang Barreto dan ia mengancam akan membunuh saya.”

Sementara di lain pihak, Zamparini justru mempertanyakan kembali kebenaran ancaman tersebut. Baginya, Ferrero yang ternyata sudah lama menjadi musuh bebuyutannya itu tak jauh berbeda dengan orang gila.

Yang menjadi sasaran omongan jahil Ferrero tak cuma presiden kesebelasan lain. Rafael Benitez, yang sekarang melatih Real Madrid juga pernah dia “damprat”.

Nama Benitez pernah dikaitkan sebagai pengganti Mihajlovic yang kontraknya selesai di akhir musim lalu. Kata Ferrero, kalau ingin melatih Sampdoria, Benitez harus dibawa ke ahli gizi dahulu terkait bobot tubuhnya. Begitu juga dengan Paulo Sousa, yang menurutnya pelatih Fiorentina itu lebih cocok menjadi seorang komedian daripada pelatih sepakbola.

“Jika (Mihajlovic) pergi, saya tahu siapa yang akan menggantikannya. Bos Basel, Paulo Sousa, tidak akan menjadi pelatih Sampdoria berikutnya, ia lebih cocok menjadi aktor komedi Lino Banfi,” celotehnya.

Bursa Transfer ala Ferrero

Dalam urusan bursa transfer, Ferrero mengaku selalu mengincar Lionel Messi, penyerang Barcelona, untuk bergabung dengan Sampdoria. Dirinya yakin jika pemain asal Argentina tersebut akan membantu mengembalikan era sukses Ia Samp pada tahun 1980 sampai awal 1990-an.

Walau sampai saat ini belum berhasil mendatangkan Messi — sepertinya tidak akan pernah–, Sampdoria berhasil mendatangkan beberapa pemain yang jauh lebih realistis; seperti Niklas Moisander (Ajax Amsterdam), Ervin Zuvkanovic (Chievo), Mattia Cassani (Parma), Fernando (Shaktar Donetsk), Barreto (Palermo) dan Georgios Samaras (West Bromwich Albion).

ferrero04 Konfrontasi Si Gila dan Nyentrik Massimo Ferrero

Ferrero pun merasa transfer Sampdoria sampai saat ini masih belum cukup. Maka dari itu Bek Chelsea, Kurt Zouma, menjadi bagian dari daftar belanja Sampdoria pada bursa transfer musim panas kali ini. Hal tersebut tidak lepas dari keikutsertaan Palombo dkk dalam ajang Europa League musim depan.

Pria 64 tahun itu juga bersikeras ingin mendatangkan Mario Balotelli ke Stadion Luigi Ferraris. Menurutnya, Sampdoria merupakan kesebelasan yang paling tepat untuk mengembalikan performa terbaik penyerang bengal asal Italia tersebut. Hanya saja, terlalu mengawang-awang jika Liverpool menggaji Balotelli 10 juta euro per tahun, sedangkan Sampdoria hanya sanggup 1 juta euro per musim.

Uniknya lagi, tak semua orang sepaham dengan rencana perekrutan pemain yang diinginkan oleh Ferrero. Walter Zenga yang menjabat sebagai pelatih dikabarkan tak sepaham dengan keinginan sang bos.

Segala kegilaan Ferrero agaknya memang menjadi antinomi dari stereotipe yang sering dilekatkan pada presiden klub sebagai simbol kewibawaan. Namun, pembicaraan di ranah sepakbola adalah pembicaraan tentang prestasi, gelar juara dan hal-hal hebat ala lapangan hijau lainnya. Jika kegilaan Ferrero tetap saja tak bisa membikin Sampdoria merebut satu gelar pun, cepat atau lambat, kegilaannya akan menjadi omong kosong yang tak ada artinya.