Serie A yang Kurang Menyukai Kejutan

303agent.com – Kata orang bijak, hidup terasa datar tanpa kejutan. Bila semua hal sudah bisa diprediksi dari awal, tentu saja tidak ada unsur “seru” dalam kehidupan itu sendiri. Dan sepakbola pun erat dengan unsur kejutan. Bahkan dibandingkan dengan olahraga lain, sepakbola tergolong yang paling sering menghadirkan kejadian yang tidak terprediksi.

Kejutan-kejutan dalam sepakbola ada yang mencapai skala masif seperti Yunani menjuarai Euro 2004, Pep Guardiola yang meraih treble winners pada musim pertama dirinya menjadi pelatih, sampai luluh lantaknya tuan rumah Piala Dunia Brasil di tangan Jerman. Namun kejutan yang lumra dijumpai adalah tim underdog yang mengalahkan tim unggulan, bahkan sampai menjuarai suatu kompetisi.

kejutanseria01 300x200 Serie A yang Kurang Menyukai Kejutan

Serie A Italia sebagai salah satu kompetisi sepakbola terbesar di dunia tentu saja tidak luput dari fenomena kejutan ini. Sebagai contoh kecil, musim lalu kita menemukan klub yang sudah divonis degradasi karena pailit, Parma, berhasil menumbangkan sang Scudetto Juventus. Hal di luar prediksi yang lebih besar hadir di akhir musim, ketika Sampdoria dan Lazio mengakhiri musim di zona Eropa, melewati klub-klub raksasa tradisional seperti Internazionale Milano dan AC Milan.

Jenis kejutan yang disebut terakhir tampaknya kurang disukai oleh Serie A, atau sepakbola Italia secara keseluruhan. Mengapa?

Seperti yang kita ketahui, beberapa musim terakhir ini Italia sudah terlempar dari tiga besar ranking koefisien UEFA, di mana jatah Italia untuk kompetisi Liga Champions hanya jadi tiga tim. Lupakan masa-masa keemasan Serie A ketika fans bisa menyaksikan Juve, Inter, Milan, dan Roma sekaligus berlaga di Liga Champions. Kemewahan mengirim empat klub ke kompetisi antarklub paling bergengsi di dunia itu sekarang dimiliki oleh Bundesliga yang menggantikan Serie A di peringkat ketiga koefisien liga UEFA. Selain Bundesliga, tentu saja ada Premier League dan La Liga Spanyol yang juga mengutus empat wakil di Liga Champions.

Turunnya koefisien Italia adalah dampak dari buruknya prestasi dari klub-klub Italia di ajang Eropa. Terakhir kali ada klub Italia yang mengangkat trofi di tingkat Eropa adalah Inter Milan pada tahun 2010. Setelah itu tidak ada lagi klub Italia yang bisa melaju jauh di turnamen Eropa. Tren buruk ini sedikit dipulihkan oleh prestasi baik Juventus di Liga Champions, yang di musim lalu menembus final sebelum ditundukkan Barcelona 3-1. Fiorentina dan Napoli pun mengukir prestasi lumayan dengan melesat ke semifinal Europa League. Tapi bagaimana dengan musim-musim sebelumnya?

Sejak 2010, Italia beberapa kali diwakili oleh nama-nama medioker seperti Udinese, Sampdoria, dan Palermo di ajang Eropa. Udinese dua kali lolos ke play-off Liga Champions, dan Sampdoria satu kali. Palermo pernah berlaga di babak utama Europa League pada 2010/2011. Terlepas dari menurunnya performa jagoan-jagoan tradisional Italia, tidak bisa dipungkiri juga nama-nama di atas juga berkontribusi besar atas turunnya ranking Italia.

kejutanseria03 Serie A yang Kurang Menyukai Kejutan

Pada awal musim, tentu tidak banyak yang menjagokan tim seperti Udinese dan Sampdoria finis di zona Liga Champions. Tentu menyenangkan melihat tim yang tidak disokong dengan dana besar seperti dua klub ini dapat meraih prestasi yang baik –sebuah kisah yang heroik. Yang salah di klub-klub kejutan Serie A ini adalah, mereka tampak seperti sudah ‘puas’ mencapai zona Eropa. Mereka seakan lupa pada musim selanjutnya mereka mengemban tugas negara sebagai duta Italia di kompetisi yang prestisius, Liga Champions.

Pada kasus Udinese, pada 2011/12 mereka takluk dari Arsenal di play-off Liga Champions. Hasil ini bisa dimaklumi melihat sejarah Arsenal sebagai kesebelasan besar di Inggris. Hebatnya, di musim itu Udinese kembali lolos ke Liga Champions. Namun pada play-off musim selanjutnya, Udinese disingkirkan oleh Sporting Braga, yang bukanlah tim dengan tradisi kuat di Eropa.

Sampdoria? Tim asal kota pelabuhan ini merasakan play-off Liga Champions 2010/2011. Hasilnya mereka kalah bersaing dengan Werder Bremen dari Jerman, yang membuat Bundesliga resmi menyalip Serie A di ranking koefisien UEFA. Prestasi mereka (plus Palermo) di Europa League? Tentu saja nihil.

Masalah dari klub-klub ini adalah mereka tampak tidak mempersiapkan tim mereka untuk berkompetisi di Eropa. Alih-alih menghadirkan bintang dengan nama besar dan pengalaman di Eropa, mereka malah ditinggal pemain-pemain kunci , bahkan pelatih mereka. Udinese yang setiap musim ditinggal pemain bintangnya tidak mencari pengganti yang sepadan. Begitu juga Sampdoria yang saat itu ditinggal Gigi Del Neri dan Marco Storari ke Juventus. Maka lolosnya mereka ke Liga Champions tampak seperti membuang-buang jatah saja.

Musim ini “penyakit” yang sama tampaknya juga menjangkiti para kejutan Serie A itu. Sampdoria ditinggal oleh Sinisa Mihajlovic, pelatih mereka musim lalu yang memilih menyeberang ke AC Milan. Sampdoria juga tidak menguatkan skuatnya secara signifikan, padahal tim Italia yang akan menjalani kompetisi resmi paling awal. Hasilnya? Sampdoria dihancurkan 0-4 di Luigi Ferraris, kandang mereka sendiri, oleh tim yang tidak bisa diketik tanpa melihat Google: Vojvodina.

Keadaan di Liga Champions? Musim ini Italia akan diwakili oleh SS Lazio di babak play-off Liga Champions. Lazio menjalani masa pramusim yang mengerikan, terakhir mereka dikalahkan oleh klub papan tengah Jerman FSV Mainz 3-0. Lazio juga belum menambah kekuatan dengan signifikan, dan diberitakan baru akan belanja pemain bintang bila berhasil melewati babak play-off Liga Champions. Pertanyaannya: mampukah Lazio melakakuna itu dengan skuat seadanya seperti saat ini? [Saat artikel diturunkan, I Biancocelestimenang tipis 1-0 atas Bayer Leverkusen di leg pertama].

Awal musim ini, para raksasa tradisional Italia seperti Inter dan AC Milan melakukan perombakan besar dalam skuatnya, yang tampak cukup menjanjikan. Harapan para tifosi tentu saja mereka bisa meraih kembali kejayaan mereka dan kembali meraih prestasi di Eropa, yang menaikkan kembali derajat Serie A. Klub-klub ini tampak tidak pernah meremehkan kompetisi Eropa, seperti yang tampaknya dilakukan klub-klub ‘kejutan’ tadi.

Dengan keadaan seperti ini, tentu bukan salah tifosi bila mereka akan mengerenyitkan dahi bila ada timprovinciale yang menggebrak tim-tim papan atas di Serie A musim ini.

kejutanseria02 Serie A yang Kurang Menyukai Kejutan